Macam Macam Beras di Indonesia – Beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia, sebenarnya tak hanya di Indonesia saja yang mengonsumsi beras atau nasi. Beras yang terdapat di Indonesia memiliki berbagai jenis, dari daerah masing masing.
Macam Macam Beras di Indonesia

  • Pandan Wangi
Siapa yang tidak tahu beras yang satu ini. Beras pandan wangi sangat terkenal karena memiliki tekstur yang pulen saat dimakan, selain itu beras ini terkenal karena memiliki bau yang wangi seperti daun pandan. Beras yang berasal dari cianjur ini memiliki fisik yang cenderung bulat dan tidak memiliki ujung yang runcing.
  • IR 64
Beras yang memiliki jangka simpan hingga tiga bulan ini, memiliki bentuk runjing dan memanjang. Meskipun beras ini dapat bertahan cukup lama, namun jika sudah dimasak beras ini menjadi cepat basi. Untuk rasa, beras ini memiliki tekstur pulen setelah dimasak namun tak berbau wangi seperti beras pandan wangi.
  • Rojolele
Jangan anggap beras ini memiliki hubungan dengan ikan lele. Beras rojolele ini berasal dari daerah jawa tengah dan jawa timur. Salah satu ciri fisik yang dapat membedakan beras rojolele dengan beras lainnya adalah karena memiliki sedikit warna putih susu pada beras, selain itu beras ini berbentuk bulat dan memiliki aroma yang harum.
  • IR 42
Dilihat dari namanya saja beras ini memiliki kemiripan dengan beras IR 64. Selain namanya yang mirip, fisik berasnya juga mirip yaitu berbentuk lonjong, yang membedakan adalah ukuran beras IR 42 yang lebih kecil disbanding dengan beras IR 64.
Beras ini sering dijadikan olahan nasi, seperti nasi goreng, nasi uduk, lonthong, dan ketupat. Hal ini disebabkan karena beras IR 42 memiliki tekstur yang tidak pulen. Petani tidak banyak menanam padi jenis ini, oleh karena itu harga beras ini lumayan mahal.
  • Beras merah
Beras merah adalah beras yang cukup terkenal di masyarakat. Beras ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, karena kandungan dalam beras ini dapat menjadikan seseorang merasa nyaman. Untuk harga yang dipatok pada pasar terbilang tinggi, karena tak banyak petani yang menanamnya. Beras ini jika sudah berubah menjadi nasi akan terasa pulen dan mengenyangkan, namun perlu diperhatikan bahwa beras merah cepat basi.


Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam mengolah lahan pertanian, diperlukan proses dan tahapan yang harus dilakukan dengan benar serta sesuai, sehingga ketika semua proses berjalan baik maka hasil yang baik diharapkan akan dapat diperoleh, dibawah ini adalah cara mudah untuk mengolah lahan persawahan dalam ukuran luas persatu hektar tanah.

Tahap pertama
Taburkan pupuk kompos antara 4 sampai 5 ton perhektar dengan merata, lalu bajak tanah dengan kedalaman 10 hingga 15 cm, kemudian diperam (biarkan) dengan tenggang waktu satu minggu minimal atau sampai tumbuh gulma baru.

Tahap kedua 
Aliri lahan persawahan dengan air secara merata dengan ketinggian secukupnya dan glebek atau digaru, pembenahan galengan atau pematang sawah dapat dilakukan sebelum atau bersaman dengan olah tanah ytahap kedua, ratakan tanah atau lumpur serta buat siring dreinase disetiap pinggiran pematang sawah agar aliran serta sirkulasi air disawah menjadi baik dan lancar.

Tahap ketiga Persiapan benih padi.
Persiapan benih padi atau semayan, ratakan tempat persemayan dengan luas 20% dari lokasi yang akan ditanami, dengan jumlah benih 15 sampai 20 Kg per Hektar, umur benih persemayan yang paling ideal untuk dipindah tanam adalah pada umur 7 sampai 15 hari, kemudian tanam benih padi yang sudah siap ditanam dengan sistem jajar legowo 2.1 atau 4.1 artinya dua baris rapat beri ruang satu baris, sistem ini bertujuan agar cahaya matahari yang dibutuhkan tumbuhan dapat dengan baik diterima, bisa juga menggunakan sistim tanam yang berbeda sesuai dengan selera.

Tahap pemupukan
Waktu pemupukan tanaman padi harus sesuai waktu serta dosisnya, apabila waktu dan dosisnya tidak sesuai maka tanaman tidak akan tumbuh dengan baik bahkan bisa mengalami kerusakan.
Pemupukan pertama dilakukan pada usia 0 sampai 7 hari setelah tanam, dosis pupuk SP 100 Kg, urea 100 Kg, poska 50 Kg.
Pemupukan kedua dilakukan pada usia 20 sampai 25hari setelah tanam, dosis pupuk urea 100 Kg, poska 100 Kg.
Pemupukan ketiga dilakukan pada usia 35 sampai 40 hari setelah tanam, dosis KCL 100 Kg.


Tahap perawatan
Pengisian air dilakukan setiap 10 hari sekali, sampai tahap pengisian penyemprotan dapat dilakukan berdasarkan hama atau penyakit yang menyerang tanaman padi disesuaikan, kemudian bersihkan gulma (rumput) yang tumbuh disekitar tanaman padi, dapat menggunakan herbisida tetapi dianjurkan lebih baik menggunakan landak garuatau landak gosrok (alat pencabut rumput), sebab dapat memutus akar tanaman, mengemburkan tanah, mengisi oksegen dalam tanah guna memacu tumbuhnya jumlah anakan padi serta merangsang daya kerja akar yang llebih aktif.


Tahap pemanenan. 
Tanaman padi dapat dipanen pada usia relatif sekitar 3 bulan ketika bulir padi telah menguning antara 80 sampai 90% dengan potensi 6 sampi 8 ton perhektar sawah( non hibrida).


Tahap paska panen
Taburkan jerami kembali kelahan persawahan tetapi jangan dibakar karena kandungan KCL yang tersimpan dalam jeramih masih berkisar 1,8 sampai 2,0%dari yang digunakan sebelumnya, kandungan tersebut sebagai tabungan dimusim tanam yang akan datang sehingga kita dapat mengurangi penggunaan pupuk dari jumlah yang direkomendasikan. (Kontributor Sardianto & Tri W).

Lahan persawahan yang ditanami padi menggunakan sistem jajar legowo


Lahan persawahan yang ditanami padi menggunakan sistem jajar legowo

Panduan Lengkap BUDIDAYA PADI Hasil Maksimal dari Awal Hingga Paska Panen

Cara Budidaya PADI SAWAH

Cara TANAM PADI Sawah Yang Baik dan Benar
Penanaman PADI SAWAH (Foto by : Nurhadiyati)
Budidaya Tanaman Pangan – Padi merupakan salah satu jenis tanaman pangan paling penting didunia. Padi dalam bahasa latin disebut Oryza sativa L. adalah salah satu tanaman budidaya yang sangat vital di Indonesia. Meskipun produksi padi dunia berada pada urutan ketiga setelah jagung dan gandum, namun padi merupakan makanan pokok sumber karbohidrat utama bagi sebagian besar masyarakat dunia. Di Indonesia sendiri padi menempati urutan pertama sebagai bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat. Namun sayangnya sampai saat ini produksi padi nasional belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat kita, dengan kata lain Indonesia belum mampu berswasembada padi. Sebagai negara agraris dengan lahan sawah yang luas, semestinya produksi padi di Indonesia melimpah. Minimal untuk kebutuhan didalam negeri. Namun kenyataannya sangat ironis, kita sampai sekarang masih mengimpor beras dan lebih parahnya lagi Indonesia adalah pengimpor beras terbesar di dunia.
Negara produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat Tiongkok (28% dari total produksi dunia), India (21%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total produksi dunia). Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%). Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Bangladesh (4%), dan Brasil (3%).Produksi padi Indonesia pada 2006 adalah 54 juta ton , kemudian tahun 2007 adalah 57 juta ton (angka ramalan III), meleset dari target semula yang 60 juta ton akibat terjadinya kekeringan yang disebabkan gejala ENSO.(wikipedia)
Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) mencanangkan peningkatan produksi beras sebesar 5 %. Hal ini bisa ditempuh dengan berbagai cara yakni dengan perluasan areal penanaman padi dan dengan intensifikasi. Intensifikasi bisa ditempuh dengan penerapan PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu)” yang diawali dengan pemilihan benih, cara persemaian dan cara tanam yang baru karena mengubah kebiasaan petani, dengan komponen PTT yaitu menggunakan varietas unggul baru/varietas hibrida( benih berkualitas) dan umur bibit muda, bagan warna daun, pengendailan HPT secara terpadu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian menjadi pelaksana langsung di lapangan untuk membantu memperkenalkan beberapa varietas unggul baru dan mendampingi petani dalam menerapkan PTT. Adapun tujuan penerapan PTT untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat yang dapat meningkatkan hasil gabah dan mutu beras serta menjaga kelestarian lingkungan.
Mengetahui dan memahami pemilihan benih, penyiapan persemaian, pengolahan tanah,, cara semai, cara tanam padi sawah akan mendapatkan tanaman yang sehat, produktivitas yang tinggi dengan masukan biaya yang rendah. Tanaman yang sehat merupakan persyaratan utama yang harus dipenuhi agar produktivitas tinggi. Untuk itu maka sejak awal, tanaman padi harus di perlakukan sebaik mungkin agar air, hara dalam tanah yang tersedia dapat di manfaatkan semaksimal mungkin.

A. Cara Memilih Benih Padi Yang Baik

Benih bermutu merupakan salah satu komponen teknologi yang penting untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani padi. Saat ini dapat diperoleh berbagai varietas unggul yang memiliki karakteristik sesuai dengan kondisi wilayah dan keinginan pasar. Varietas unggul mempunyai keunggulan sepeti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan. Dengan menggunakan benih bermutu/varietas unggul akan diperoleh bibit sehat, tegar (vigor tinggi) dengan perakaran banyak, bibit lebih cepat tumbuh dan bibit tumbuh seragam. Cara memilih benih yang baik dimana benih direndam dalam larutan ZA 20 gr/liter air, kemudian benih yang mengambang/mengapung dibuang. Dan benih yang tenggelam adalah benih yang baik untuk dibudidayakan.

B. Persiapan Persemaian dan Cara Menyemai Benih Padi

Cara SEMAI BENIH Padi
Persemaian Bibit Padi
1. Buat bedengan dengan lebar 1,0 -1,2 m dan panjang disesuaikan dengan keperluan.
2. Luas persemaian untuk 1 hektar lahan adalah 400m2 (4 % dari luas tanam), dan drainase harus baik.
3. Tambahkan 2 kg bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, serbuk kayu dan sekam yang sudah melapuk/abu).
4. Persemaian dilakukan 25 hari sebelum masa tanam, persemaian dilakukan pada lahan yang sama atau berdekatan dengan petakan sawah yang akan ditanami, hal ini dilakukan agar bibit yang sudah siap dipindah, waktu dicabut dan akan ditanam mudah diangkut dan tetap segar. Bila lokasi jauh maka bibit yang diangkut dapat stress bahkan jika terlalu lama menunggu akan mati.
5. Benih yang dibutuhkan untuk ditanam pada lahan seluas 1 ha sebanyak 20 Kg.
6. Benih yang hendak disemai sebelumnya harus direndam terlebih dahulu secara sempurna sekitar 2 x 24 jam, dalam ember atau wadah lainnya. Hal ini dilakukan agar benih dapat mengisap air yang dibutuhkan untuk perkecambahannya.
7. Bedengan persemaian dibuat seluas 100 m2/20 Kg. lahan untuk persemaian ini sebelumnya harus diolah terlebih dahulu, pengolahan lahan untuk persemaian ini dilakukan dengan cara pencangkulan hingga tanah menjadi lumpur dan tidak lagi terdapat bongkahan tanah.
8. Lahan yang sudah halus lumpurnya ini kemudian dipetak-petak dan antara petak-petak tersebut dibuat parit untuk mempernudah pengaturan air.
9. Benih yang sudah direndam selama 2 x 24 jam dan sudah berkecambah ditebar dipersemaian secara hati-hati dan
merata, hal ini didimaksudkan agar benih yang tumbuh tidak saling bertumpukan.
10. Benih tidak harus terbenam kedalam tanah karena dapat menyebabkan kecambah terinfeksi pathogen (penyebab penyakit tanaman) yang dapat menyebabkan busuknya kecambah.
11. Pemupukan lahan persemaian dilakukan kira-kira pada umur satu minggu benih setelah ditanam (tabur). Kebutuhan pupuk yang digunakan yaitu 2,5Kg Urea, 2,5Kg SP36 dan 1Kg KCL.

C. Cara Pengolahan Tanah Untuk Persiapan Lahan BUDIDAYA PADI Sawah

Cara Mengolah LAHAN PADI
Pengolahan lahan padi (Foto by : Asrul arul)
Pengolahan bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang semula keras menjadi datar dan melumpur. Dengan begitu gulma akan mati dan membusuk menjadi humus, aerasi tanah menjadi lebih baik, lapisan bawah tanah menjadi jenuh air sehingga dapat menghemat air. Pada pengolahan tanah sawah ini, dilakukan juga perbaikan dan pengaturan pematang sawah serta selokan. Pematang (galengan) sawah diupayakan agar tetap baik untuk mempermudah pengaturan irigasi sehingga tidak boros air dan mempermudah perawatan tanaman. Tahapan pengolahan tanah sawah pada prinsipnya mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Pembersihan
Pematang sawah dibersihkan dari rerumputan, diperbaiki, dan dibuat agak tinggi. Fungsi utama pematang disaat awal untuk menahan air selama pengolahan tanah agar tidak mengalir keluar petakan. Fungsi selanjutnya berkaitan erat dengan pengaturan kebutuhan air selama ada tanaman padi.Saluran atau parit diperbaiki dan dibersihkan dari rerumputan. Kegiatan tersebut bertujuan agar dapat memperlancar arus air serta menekan jumlah biji gulma yang terbawa masuk ke dalam petakan. Sisa jerami dan sisa tanaman pada bidang olah dibersihkan sebelum tanah diolah. Jerami tersebut dapat dibakar atau diangkut ke tempat lain untuk pakan ternak, kompos, atau bahan bakar. Pembersihan sisa–sisa tanaman dapat dikerjakan dengan tangan dan cangkul
b. Pencangkulan
Setelah dilakukan perbaikan pematang dan saluran, tahap berikutnya adalah pencangkulan. Sudut–sudut petakan dicangkul untuk memperlancar pekerjaan bajak atau traktor. Pekerjaan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan saat pengolahan
tanah.
c. Pembajakan
Pembajakan dan penggaruan merupakan kegiatan yang berkaitan. Kedua kegiatan tersebut bertujuan agar tanah sawah melumpur dan siap ditanami padi. Pengolahan tanah dilakukan dengan dengan menggunakan mesin traktor. Sebelum dibajak, tanah sawah digenangi air agar gembur. Lama penggenangan sawah dipengaruhi oleh kondisi tanah dan persiapan tanam.
Pembajakan biasanya dilakukan dua kali. Dengan pembajakan ini diharapkan gumpalan–gumpalan tanah terpecah menjadi kecil–kecil. Gumpalan tanah tersebut kemudian dihancurkan dengan garu sehingga menjadi lumpur halus yang rata. Keuntungan tanah yang telah diolah tersebut yaitu air irigasi dapat merata. Pada petakan sawah yang lebar, perlu dibuatkan bedengan–bedengan. Antara bedengan satu dengan bedeng lainnya berupa saluran kecil. Ujung saluran bertemu dengan parit kecil di tepi pematang yang berguna untuk memperlancar air irigasi.

D. Pelaksanaan Penanaman Bibit PADI SAWAH

Cara MENANAM BIBIT Padi
Penanaman BIBIT PADI (Foto by : Nurhadiyati)
Setelah persiapan lahan beres maka bibit pun siap ditanam. Bibit dianjurkan untuk ditanam semuda mungkin, biasanya dipindah saat umur 20 hari. Ciri bibit yang siap dipindah ialah berdaun 5-6 helai, tinggi 22-25 cm, batang bawah besar dan keras, bebas dari hama dan penyakit sehingga pertumbuhannya seragam. Bibit ditanam dengan cara dipindah dari bedengan persemaian ke petakan sawah, dengan cara bibit dicabut dari bedengan persemaian dengan menjaga agar bagian akarnya terbawa semua dan tidak rusak. Setelah itu bibit dikumpulkan dalam ikatan-ikatan lalu ditaruh disawah dengan sebagian akar terbenam ke air.
Bibit ditanam cukup satu bibit per lubang tanam, dengan posisi tegak dan apabila petani masih belum terbiasa dengan menanam satu bibit, pada tahap awal dapat menanam 2-3 bibit per lubang tanam, dengan kedalaman tanam cukup 2 cm, karena jika kurang dari 2 cm bibit akan gampang hanyut. Pengaturan jarak tanam dilakukan dengan caplak, Jarak tanam padi model tegel biasanya 20 cm x 20 cm atau 25 cm x 25 cm. Model sistem tanam jajar legowo juga sudah banyak diterapkan yaitu legowo 2 : 1 (40 x 20 x 10 cm) adalah cara tanam berselang seling 2 baris dan 1 bari kosong. Jarak antar baris tanaman yang dikosongkan di sebut satu unit.

E. Cara PEMUPUKAN PADI Sawah

Tanah yang dibudidayakan secara terus menerus cenderung kekurangan unsur hara bagi tanaman, oleh karena itu diperlukan penambahan unsur hara yang berasal dari pupuk organik maupun pupuk anorganik. Agar efektif dan efisien penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD).
Cara menentukan waktu aplikasi pupuk N dengan menggunakan BWD dapat dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut :
1. Cara pertama adalah waktu tetap, yaitu waktu pemupukan di tetapkan lebih dahulu berdasarkan tahap
pertumbuhan tanaman, antara lain fase pada saat anakan akif dan pembentukan malai dan saat primordia
2. Cara kedua adalah waku pemberian pupuk berdasarkan nilai pembacaan BWD yang sebenarnya yaitu penggunaan BWD dimulai ketika tanaman 14 HST, kemudian secara periodik diulangi 7-10 hari sekali sampai diketahui nilai kritis saat pupuk N harus diaplikasikan.

F. Perawatan dan Pemeliharaan PADI SAWAH

Perawatan dan pemeliharaan tanaman sangat penting dalam pelaksanaan budidaya padi sawah. Hal-hal yang sering dilakukan oleh para petani adalah penyiangan (pengendalian gulma). Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang hidup bersama tanaman yang dibudidayakan dan pada umumnya sangat merugikan tanaman padi . Disamping dapat menjadi tanaman inang beberapa hama dan penyebab penyakit, gulma merupakan pesaing untuk unsur hara air, tempat dan sinar matahari. Apalagi gulma memiliki sistem perakaran yang sama dengan padi sehingga unsur makanan yang diperlukan oleh gulma dan padi berasal dari lapisan tanah yang sama. Penyiangan gulma dilakukan 2 tahap, dimana tahap pertama penyiangan dilakukan pada saat umur tanaman kurang lebih 15 hari dan tahap kedua pada saat umur tanaman berumur 30-35 hari. Penyiangan yang dilakukan dengan cara mencabut gulma dan dimatikan dengan atau tanpa menggunakan alat, biasanya penyiangan ini dilakukan bersamaan dengan dengan kegiatan penyulaman.

G. Tanda-tanda Padi Siap Panen dan Cara Panen Padi

Ciri-ciri PADI Siap Panen
Padi siap panen (Foto by : Alief Adja)
Tujuan pemanenan padi adalah untuk mendapatkan gabah dari lapangan pada tingkat kematangan optimal, mencegah kerusakan dan kehilangan hasil seminimal mungkin. Pemanenan padi tidak akan menguntungkan dan memuaskan jika prosesnya dilakukan dengan cara yang kurang benar dan pada umur panen yang tidak tepat. Cara panen yang tidak baik akan menurunkan kehilangan hasil secara kuantitatif, sedang saat panen yang tepat akan menentukan kualitas gabah dan beras. Panen harus dilakukan bila bulir padi sudah cukup dianggap masak. Panen yang kurang tepat dapat menurunkan kualitas dari gabah maupun beras.
1. Ciri-ciri Padi Siap Panen ;
> Daun bendera telah mengering dan 95% gabah sudah menguning
> Umur optimal malai 30 – 35 hari terhitung sejak hari sesudah berbunga (HSB). Tergantung varietas yang dibudidayakan
> Kadar air gabah berkisar antara 21 – 26%
> Kerontokan gabah sekitar 16 – 30 % (Cara mengukurnya dengan meremas malai dengan tangan)
2. Peralatan Panen Padi
Ada beberapa peralatan yang dibutuhkan dalam memanen padi, antara lain sebagai berikut :
> Ani-ani
> Sabit biasa
> Sabit bergerigi
> Mesin pemanen padi seperti Reaper
> Karung goni/ sak
> Tali
3. Cara Panen Padi
Cara Memanen Padi
Cara panen padi (Foto by : Nurhadiyati)
Dalam melakukan pemanenan padi dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari alat yang digunakan, varietas padi dan cara merontokkan gabah yang akan dilakukan. Berikut ini beberapa cara dalam memanen padi;
> Ani-ani umumnya digunakan petani untuk memanen padi lokal yang tahan rontok dan tanaman padi berpostur tinggi dengan cara memotong pada tangkainya.
> Cara panen padi varietas unggul baru dengan sabit dapat dilakukan dengan cara potong atas, potong tengah atau potong bawah tergantung cara perontokannya.
> Cara panen dengan potong bawah, umumnya dilakukan bila perontokannya dengan cara dibanting/digebot atau menggunakan pedal thresher
> Panen padi dengan cara potong atas atau potong tengah bila dilakukan perontokannya menggunakan mesin perontok.

H. Paska Panen Padi

Padi setelah dilakukan pemanenen segera dilakukan pengumpulan ke suatu tempat yang dekat dengan alat perontokan. Ditempat pengumpulan diberi alas dengan menggunakan terpal dengan tujuan untuk menekan kehilangan hasil. Perontokan padi merupakan tahapan pasca panen padi setelah pemotongan atau memanen. Tujuan tahapan ini adalah melepaskan bulir-bulir gabah dari malainya. Pada saat dilakukan perontokan gabah ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu sebagai berikut :
> Pelaksanaan perontokan harus dilakukan sesegera mungkin setelah panen.
> Untuk menghindari banyaknya gabah yang tercecer sebaiknya digunakan alas, untuk alas dapat dipakai plastic, terpal, anyaman bambu atau tikar.
Cara Merontokkan Gabah
Perontokan gabah menggunakan mesin perontok (Foto by : Nurhadiyati)
Setelah padi dipanen gabah harus segera dirontokkan malainya. Tempat perontokan dapat dilakukan di lahan atau di halaman rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan tenaga manusia atau dengan alat mesin. Perontokan padi merupakan salah satu tahapan pasca panen yang memberikan kontribusi cukup berarti bagi kehilangan hasil dan mutu padi secara keseluruhan, untuk itu diperlukan suatu usaha mencari alternative perontokan yang tepat sehingga hasil perontokan padi menghasilkan gabah bermutu dan kehilangan hasil yang kecil.
1. Cara Perontokan Gabah
Perontokan padi dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin. Cara perontokan padi dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
> diiles/diinjak,
> pukul (gedig),
> banting (gebot),
> pedal tresher/ mesin perontok/power tresher
2. Pembersihan Gabah
Pembersihan adalah proses pemisahan padi atau gabah dari benda asing atau kotoran lainnya yang akan merusak benih/gabah saat disimpan. Maksud dan tujuan dari pembersihan gabah/padi adalah sebagai berikut ;
> Mempercepat waktu pengeringan
> Memperkecil biaya pengeringan
> Menghindari memburuknya atau kerusakan gabah selama penyimpanan
> Menghindari bahan dari kerusakan conveying dan penggilingan
> Menghindari bahan dari penurunan grade
> Memperkecil kebutuhan ruang dan tempat penyimpanan
3. Pengeringan Gabah
Cara Mengeringkan Gabah Padi
Pengeringan / penjemuran gabah (Foto by : Nurhadiyati)
Kegiatan pengeringan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam usaha mempertahankan mutu gabah. Kadar air gabah yang baru dipanen berkisar antara 20 – 25 %, sehingga perlu diturunkan kadar airnya dengan cara pengeringan sampai gabah mencapai kadar air maksimum 14 %. Tujuan pengeringan adalah agar gabah tidak mudah rusak sewaktu disimpan, rendeman giling dan mutu tetap baik. Untuk mencapai tujuan tersebut sebaiknya pengeringan dilakukan segera setelah pemanenan dan perontokan untuk mencegah butir kuning. Pengeringan gabah umumnya dilakukan dengan memanfaatkan panas sinar matahari, tetapi jika panen terjadi musim hujan disarankan menggunakan alat pengering buatan seperti mesin pengering (drayer) atau silo pengering.
Sebelum melakukan penjemuran dengan sinar matahari perlu diperhatikan bahwa tempat penjemuran bebas dari genangan air, terlindung dari gangguan unggas dan binatang lainnya. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
> Penjemuran dilakukan ditempat yang leluasa menerima sinar matahari, bebas dari genangan air, terlindung dari gangguan unggas dan binatang lainnya.
> Membuat lantai jemur dengan permukaan dari semen dan dibuat gelombang.
> Jika terjadi cuaca cerah penjemuran gabah sebaiknya dengan ketebalan 5 – 7 cm dan dibolak balik 1 – 2 jam sekali dengan menggunakan alat yang terbuat dari kayu atau bambu. Bila menggunakan alas jemur, jangan menggunakan terpal berbahan plastik karena dapat mempengaruhi peningkatan kadar air.
> Waktu penjemuran dianjurkan mulai pukul 08.00 pagi sampai jam 16.00
> Jika pengeringan gabah dalam jumlah besar maka pada malam hari tetap dibiarkan diatas jemuran dengan cara digundukkan dan ditutupi dengan plastic, terpal, untuk menghindari hujan dan embun. Jika gabah-gabah yang dikeringkan dalam jumlah kecil, sebaiknya gabah diusahakan dalam ruangan dengan memakai alas tikar atau plastic.
Setelah dijemur selesai (pukul 16.00) gabah dapat dimasukkan ke karung dan disimpan dalam ruangan jika volumenya tidak banyak. Namun jika volumenya besar gabah dapat dibiarkan di luar, tetapi harus ditumpuk dan ditutupi dengan plastic agar tidak terkena embun dan hujan. Dengan cara penjemuran seperti ini selama 2 – 3 hari pada cuaca baik akan diperoleh gabah dengan kadar air kurang lebih 14 %. Penjemuran yang terlalu lama dapat berakibat gabah banyak yang pecah saat penggilingan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengeringan, antara lain sebagai berikut ;
> Pengeringan dilakukan sesegera mungkin setelah perontokan
> Tempat pengeringan harus memperoleh penyinaran matahari serta bebas dari gangguan ayam atau unggas lainnya.
> Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk penjemuran, gabah dapat dipanaskan pada ruangan di dalam rumah. Untuk menggantikan panas dapat digunakan lampu petromaks atau sumber panas yang lain. Tebal hamparannya antara 2 – 3 cm dan pembalikan juga harus tetap dilakukan
4. Penyimpanan Gabah Kering
Tujuan penyimpanan adalah untuk memperpanjang masa penyediaan bahan pangan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan adalah sebagai berikut :
> Gabah yang disimpan dengan kadar air maksimum 14 % bersih dari kotoran, gabah hampa maksimal 3 %.
> Menggunakan wadah karung yang bersih dan bebas hama.
> Gudang atau lumbung penyimpanan diusahakan agar dibangun memanjang dari arah timur barat. Untuk menghindari luasnya dinding yang terkena sinar matahari terlalu lama, sehingga gudang cukup sejuk.
> Gudang atau lumbung harus dibersihkan dari hama gudang dan disemprot dengan insektisida yang telah dianjurkan, termasuk dari serangan tikus.
> Sirkulasi udara cukup baik guna menjaga kelembaban dan suhu yang seragam.
> Jika lantai gudang dibuat dari semen, maka harus menggunakan alas kayu, guna menghindari kontak langsung antara wadah gabah dengan lantai semen.
> Dinding gudang dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menghindari hama bersembunyi
Demikian “Panduan Lengkap BUDIDAYA PADI Sawah Untuk Menghasilkan Gabah Berkualitas“. Semoga bermanfaat…
Hasil gambar untuk Teknik Pengolahan Tanah Persawahan


Pada Musim Tanam padi yang ke dua masyarakat kecamatan Gedangsari biasanya mengolah lahan tanah yang di miliki dengan cara di sawah di sebabkan air untuk menggarap tanah masih sangat mencukupi karena masih banyak curah hujan.
Pengolahan tanah bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang semula keras menjadi datar dan melumpur. Dengan begitu gulma akan mati dan membusuk menjadi humus, aerasi tanah menjadi lebih baik, lapisan bawah tanah menjadi jenuh air sehingga dapat menghemat air. Pada pengolahan tanah sawah ini, dilakukan juga perbaikan dan pengaturan pematang sawah serta selokan. Pematang (galengan) sawah diupayakan agar tetap baik untuk mempermudah pengaturan irigasi sehingga tidak boros air dan mempermudah perawatan tanaman.
Agar memberikan hasil maksimal, lahan sawah haruslah diolah secara baik. Pengolahan lahan yang baik sebelum padi di tanami adalah salah satu kunci utama dari keberhasilan panen. Pengolahan lahan yang di peruntukan bagi tanaman padi sangatlah penting untuk diperhatikan. Karena lahan sawah (tanah sawah) merupakan tempat mengambil cadangan hara yang dibutuhkan bagi tanaman padi. Oleh karena itu, pertumbuhan tanaman padi diantaranya akan dipengaruhi oleh sejauh mana proses pengolahan yang dilaksanakan sebelum di tanami.

Proses Pembajakan Lahan Persawahan

Pengolahan pertama dilakukan dengan cara membajak. Pembajakan bisa dengan cara tradisional maupun modern. Cara tradisional menggunakan bajak/singkal dengan bantuan tenaga sapi atau kerbau sedangkan cara modern menggunakan bajak traktor tangan. Proses pembajakan ini dilakukan dengan cara membalikkan lapisan olah tanah agar sisa – sisa tanaman seperti rumput, dan jerami dapat terbenam. Setelah tanah dibajak, maka dibiarkan beberapa hari, agar terjadi proses fermentasi untuk membusukkan sisa tanaman dan jerami di dalam tanah.
Selama proses tersebut sebaiknya ditambahkan bahan organik atau pupuk kandang lainnya. Tujuannya agar kandungan hara dan pertumbuhan mikroba dalam tanah dapat meningkat. Disamping itu, penggunaan bahan organik dan pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah serta faktor-faktor pertumbuhan lainnya yang biasanya tidak disediakan oleh pupuk kimia (anorganik). Gunakan bahan organik atau pupuk kandang sebanyak 2-3 ton/ha. Bahan organik atau pupuk kandang tersebut antara lain berupa kompos, jerami, kotoran sapi atau ayam, pupuk hijau dan pupuk organik lainnya. Pupuk kandang dan sumber organik lainnya digunakan pada saat pengolahan lahan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kadar bahan organik tanah.
Setelah selesai pengolahan pertama dilanjutkan dengan pengolahan kedua. Dalam pengolahan kedua ini dilakukan proses penggemburan atau proses pencampuran antara bahan organik dengan tanah. Proses ini dimaksudkan agar bahan organik dapat menyatu dengan lapisan olah tanah. Usahakan selama pengolahan ini pasokan air agar mencukupi. Jangan terlalu kering dan jangan terlalu basah. Proses pencampuran ini dilakukan sampai bahan organik benar-benar menyatu dan melumpur dengan lapisan olah tanah.
Proses selanjutnya permukaan tanah diratakan dengan bantuan alat berupa papan kayu yang ditarik sapi atau kerbau (tradisional). Atau, dengan menggunakan traktor tangan (modern). Proses ini dimaksudkan agar lapisan olah tanah benar-benar siap untuk ditanami padi pada saat tandur dilaksanakan.
Proses pengolahan lahan ini waktunya disesuaikan dengan persiapan persemaian, agar tidak terjadi keterlambatan pada saat pindah tanam. Waktu yang ideal berkisar antara 15 – 21 hari

ANALISIS USAHA BUDIDAYA TANAMAN
PADI ORGANIK
==================================



Hasil gambar untuk PADI ORGANIK
I. Pendahuluan
Beras organik merupakan beras yang berasal dari padi yang dibudidayakan secara organik atau tanpa pengaplikasian pupuk kimia dan pestisida kimia. Oleh karena tanpa bahan kimia, beras organik tersebut pun terbebas dari residu pupuk kimia dan pestisida kimia yang sangat berbahaya bagi manusia.


A. BERAS SEBAGAI KOMODITAS STRATEGIS
Beras yang dihasilkan dari tanaman padi merupakan makanan pokok lebih dari separo penduduk Asia. Sekitar 1.750 juta jiwa dari sekitar tiga miliar penduduk Asia, termasuk 200 juta penduduk Indonesia, menggantungkan kebutuhan kalorinya dari beras.
Sementara di Afrika dan Amerika Latin yang berpenduduk sekitar 1,2 miliar 100 juta di antaranya pun hidup dari beras. Oleh sebab itu, di negara – negara Asia beras memiliki nilai ekonomi sangat berarti.
Di Indonesia, beras bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik, ekonomi dan kerawanan sosial yang tinggi. Demikian tergantungnya penduduk Indonesia pada beras maka sedikit saja terjadi gangguan produksi beras, pasokan menjadi terganggu dan harga jual meningkat. Kenyataan seperti ini membuat pemerintah orde baru (1967 – 1998) menjadikan beras sebagai alat tawar – menawar politik untuk mempertahankan kekuasaannya.
Sebagai komoditas yang bernilai tawar politik sangat tinggi, pemerintah berobsesi untuk berswasembada beras. Segala daya upaya ditempuh agar terwujud target produksi. Intensifikasi pertanian pun efektif diterapkan. Teknologi pertanian melalui bibit unggul, pemupukan, dan pemberantasan hama penyakit diadopsi. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tahun 1985 Indonesia berhasil mencapai swasembada beras. Atas keberhasilan swasembada beras tersebut, Indonesia pun mendapat penghargaan dari FAO (badan dunia untuk urusan pangan)
Untuk meningkatkan produksi hingga tercapai swasembada beras tahun 1985, teknik bercocok tanam tradisional benar – benar ditinggalkan. Teknik tersebut dianggap tidak praktis karena hasilnya kurang optimal. Dapat dikatakan hampir 100 % beras yang dikomsumsikan penduduk Indonesia merupakan hasil pertanian modern dengan penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia.

B. KEUNGGULAN BERAS ORGANIK

Keunggulan utama beras organik dibanding beras biasa (ditanam dengan aplikasi pupuk buatan dan pestisida kimia) adalah relatif aman untuk dikomsumsi. Selain itu, rasa nasi dari beras organik lebih empuk dan lebih pulen. Kendatipun belum ada penelitian komprehensif (lengkap) tentang pengaruh bahan kimia di dalam pupuk dan pestisida terhadap rasa beras, namun diduga pengaruhnya tetap ada. Dugaan ini semakin diperkuat dengan pernyataan kebanyakan konsumen beras organik bahwa nasi dari beras organik lebih empuk dan pulen dibanding beras biasa.
Keunggulan lainnya adalah warna dan daya simpanannya lebih baik dibanding beras biasa. Sesudah ditanak, beras organik akan menjadi nasi yang warnanya lebih putih dibanding beras biasa. Nasi dari beras organik pun dapat bertahan selama 24 jam, sementara dari beras biasa mulai basi setelah 12 jam.

C. NILAI EKONOMIS DAN PROSPEK BISNIS BERAS ORGANIK

Gerakan kembali ke alam yang dilandasi kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan kelestarian lingkungan hidup merupakan angin segar bagi semua komoditas pertanian yang diproduksi secara organik. Kehadiran beras organik disambut gembira masyarakat yang sangat memperhatikan kesehatan dan kelestarian lingkungan. Mereka mulai sadar bahwa selama ini makanan yang dikomsumsi mengandung residu pupuk dan pestisida kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Itulah sebabnya mereka mulai mencari bahan makanan yang diproduksi secara organik sehingga aman dikomsumsi dan sekaligus ramah lingkungan.
Dari berbagai keunggulan, dapat dipastikan bahwa nilai ekonomis beras organik menjadi lebih tinggi dibanding beras biasa. Harga beras organik selalu lebih mahal. Beras organik varietas pandan wangi, misalnya, harganya mencapai 3.600,00/kg. Memang selisih harganya tidak banyak, tetapi tetap berada di atas harga beras biasa.
Di Massa mendatang prospek bisnis organik semakin cerah dengan munculnya kecenderungan masyarakat mengomsumsi produk – produk pertanian yang ditanam secara organik. Bila sekitar 5 % saja dari 200 juta lebih penduduk Indonesia mengomsumsi beras organik, dapat dibayangkan betapa banyaknya kebutuhan beras organik untuk pasar dalam negeri. Dengan asumsi setiap orang.
Mengomsumsi beras sebanyak 3 ons per hari maka dapat diperkirakan jumlah beras organik yang dikomsumsi, yaitu sekitar 1,1 juta ton per tahun.

PENANAMAN PADI ORGANIK

Cara bertanam padi organik pada dasarnya tidak berbeda dengan bertanam padi serta konvensial. Perbedaannya hanyalah pada pemilihan varietas dan penggunaan pupuk dasar.
Pertanian organik biasanya diawali dengan pemilihan bibit atau benih tanaman non –hibrida. Selain untuk mempertahankan keanekaragaman hayati, bibit non – hibrida sendiri secara teknis memang memungkinkan untuk ditanam secara organik. Ini dikarenakan bibit non-hibrida dapat hidup dan berproduksi optimal pada kondisi yang alami. Sementara bibit atau benih hibrida biasanya dikondisikan untuk dibudidayakan secara non – organik, seperti harus menggunakan pupuk kimia atau pemberantasan hanya dengan pestisida kimia. Untuk lebih jelasnya, berikut diulas tentang cara bertanamnya.

A. PEMILIHAN VARIETAS

Tidak semua varietas padi cocok untuk dibudidayakan secara organik. Padi hibrida cocok ditanam secara organik karena diperoleh melalui proses pemuliaan di laboratorium. Walaupun merupakan varietas unggul tahan hama dan penyakit tertentu, tetapi umumnya padi hibrida hanya dapat tumbuh dan diproduksi optimal bila disertai dengan aplikasi pupuk kimia dalam jumlah banyak. Tanpa pupuk kimia, padi tersebut tidak akan tumbuh subur dan berproduksi optimal.
Varietas padi yang cocok ditanam secara organik hanyalah jenis atau varietas alami. Agar berproduksi optimal, jenis padi ini tidak menuntut penggunaan pupuk kimia. Memang dampak pertanian yang hanya menggunakan varietas unggul atau hibrida adalah merosotnya keanekaragaman hayati varietas alami. Untunglah dari berbagai survei diperoleh bahwa masih ada beberapa tempat di Indonesia yang sawah petaninya ditanami padi varietas alami. Oleh karena itu, untuk keperluan penanaman padi organik, petani tidak terlalu sulit mendapatkan benihnya.
Padi varietas alami yang dapat dipilih untuk ditanam secara organik antara lain adalah rojolele, mentik, pandan, dan lestari. Di Indonesia, padi rojolele merupakan padi berkualitas terbaik untuk dikomsumsi sehingga hargannya pun paling mahal. Sebagai gambaran, harga beras rojolele di pasar swalayan beberapa kota besar di Indonesia pernah mencapai Rp 20.000,00 – Rp 25.000,00 per kg saat harga beras umumnya mengalami tingkat tertinggi, yaitu sekitar permulaan tahun 2000. Padahal harga beras biasa saat itu hanya berkisar Rp3.000,00 – Rp 5.000,00 per kg. Sayangnya padi rojolele tergolong berumur dalam, yaitu dipanen setelah berumur 150 hari atau lima bulan sejak ditanam. Sementara padi pandan, lestari, dan mentik berumur genjah, yaitu hanya sekitar 100 hari atau sekitar tiga bulan sudah dapat dipanen. Memang kualitas padi pandan, lestari dan mentik tidak sebagus padi rojolele, tetapi masih banyak konsumen yang menyukainya karena rasanya pulen dan empuk.

B. PEMBENIHAN

Pembenihan merupakan salah satu tahap dalam budi daya padi karena umumnya ditanam dengan menggunakan benih yang sudah disemaikan terlebih dahulu di tempat lain.
Pembenihan pada budi daya padi secara organik pada dasarnya tidak berbeda dengan pembenihan pada budi daya padi biasa.
1. Seleksi benih
Benih bermutu merupakan syarat untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal. Bila pemilihan benih tidak baik, hasilnya tidak akan baik walaupun perawatan seperti pemberian pupuk dan pemberantasan hama penyakit sudah dilakukan dengan benar, Semua usaha perawatan tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan bila yang ditanam adalah benih jelek. Untuk itulah, seleksi benih harus dilakukan dengan cermat dan sebaik –baiknya.
Umumnya benih dikatakan bermutu bila jenisnya murni, beras,kering, sehat, bebas dari penyakit, dan bebas dari cmpuran biji rerumputan yang tidak dikehendaki. Benih yang baik pun harus tinggi daya kecambahnya, paling tidak harus mencapai 90 %. Benih dengan kriteria tersebut biasanya mampu menghasilkan tanaman yang sehat, kekar, kokoh, dan pertumbuhan seragam.
2. Kebutuhan benih
Salah satu kebutuhan yang umum dilakukan petani Indonesia, tetapi sudah dianggap biasa adalah penggunaan benihyang berlebihan. Petani biasanya menyediakan benih sampai sekitar 45 kg untuk setiap hektar tanah yang akan ditanaminya.
Perhitungan sederhana berikut membuktikan bahwa jumlah benih tersebut jauh di atas kebutuhan sebenarnya. Dengan asumsi jarak tanam rata – rata 25 cm x 25 cm maka setiap hektar sawah dapat memuat 160.000 rumpun bibit padi. Bila setiap rumpun terdiri dari rata – rata 4 bibit padi maka jumlah butir gabah yang diperlukan sebanyak 640.000. berat gabah bernas sebanyak itu hanyalah sekitar 20 – 25 kg saja. Dengan asumsi daya tumbuh 90 % maka jumlah benih yang dibutuhkan maksimal hanya 30 kg.
Berlebihnya penyediaan benih padi juga berpengaruh terhadap mutu bibit yang dihasilkan. Oleh karena terlalu banyak maka saat ditebar di atas persemaian, benih – benih akan tersebar sangat berdekatan atau bahkan berimpitan satu dengan lainnya. Akibatnya bibit akan tumbuh saling berjejal sehingga sinar matahari tidak dapat menembus ke sela – selanya. Kondisi ini dapat menjadikan bibit tumbuh memanjang dan lemah sehingga saat dipindahkan ke lahan akan ada banyak yang mati.
Untuk memperoleh bibit yang sehat dan kokoh, jumlah ideal benih yang disebarkan sekitar 50 – 60 g/m2. Dengan jumlah tersebut benih akan tersebar dalam jarak yang cukup untuk memberikan keleluasaan bagi bibit tumbuh sehat dan kokoh. Dalam perhitungan lebih lanjut, perbandingan luas tanah untuk pembenihan dengan lahan tanam adalah 3 : 100. Artinya, bila sawah seluas 1 hektar maka bagian sawah sebagai tempat pembenihan cukup sekitar 35 m2

3. Penyiapan tempat pembenihan
Menyiapkan tempat pembenihan pada prinsipnya sama dengan menyiapkan lahan penanaman. Bagian sawah yang akan digunakan untuk pembenihan dicangkul merata sedalam kira – kira 30 cm. Selanjutnya tanah dihaluskan dengan cara pencangkulan ulang menjadi bagian – bagian yang lebih kecil dan selanjutnya diinjak – injak sampai lumer. Bersamaan dengan penghalusan ini, lahan sawah dapat ditambahkan pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 40 kg setiap 35 mdengan cara ditebar merata. Selanjutnya pupuk kandang tersebut diinjak – injak sehingga menyatu dengan tanah. Bila tanah tidak tidak cukup subur (dapat dilihat dari tingkat kesuburan tanaman sebelumnya), jumlah pupuk kandang yang diberikan dapat ditingkatkan menjadi 100 kg per 35 m2. Cara pemberiannya sama dengan pada tanah subur.
Pada keempat sisi dan tengah tempat pembibitan, harus dibuatkan parit sebagai tempat untuk mengeluarkan kelebihan air. Parit sangat dibutuhkan karena air yang menggenang cukup tinggi di persemaian akan berakibat turunnya mutu bibit yang dihasilkan. Salah satu akibatnya adalah pertumbuhan perakaran bibit tidak sempurna karena suhu di dalam tanah terlalu rendah. Penyiapan tempat untuk pembibitan ini dilakukan kira – kira seminggu sebelum benih disebarkan.
4. Mengecambahkan benih
Benih yang sudah terseleksi selanjutnya dikecambahkan dahulu sebelum disebar di persemaian. Caranya, benih direndam dalam air bersih selama sekitar dua hari sehingga menyerap air. Air pada benih ini akan digunakan dalam proses perkecambahannya.
Bersamaan dengan perendaman benih, dapat sekaligus dilakukan pemilahan. Benih yang hampa akan mengapung di permukaan air, sedangkan benih bernas akan tenggelam. Hanya benih bernas saja yang dipilih untuk dikecambahkan. Sementara benih yang mengapung tidak dipilih.
Setelah direndam selama dua hari, benih diangkat dan diperam sekitar dua hari agar berkecambah. Pemeraman dilakukan dengan cara dihamparkan di atas lantai dan kemudian ditutup karung goni basah.
Selain cara ini, pemeraman dapat dilakukan dengan cara benih dimasukkan dalam karung plastik dan ditutup rapat. Benih yang baik biasanya sudah mulai berkecambah hanya dalam waktu sehari.
5. Menyebarkan benih
Benih yang sudah berkecambah disebarkan secara hati – hati ke permukaan tanah persemaian. Usahakan benih tersebar merata dan tidak tumpang tindih. Benih tidak perlu harus terbenam ke dalam tanah. Biasanya benih yang terbenam justru dapat terinfeksi patogen penyebab busuk kecambah.

C PENYIAPAN LAHAN

Penyiapan lahan pada dasarnya adalah pengolahan tanah sawah hingga siap untuk ditanami. Prinsip pengolahan tanah adalah pemecahan bongkahan – bongkahan tanah sawah sedemikian rupa hingga menjadi lumpur lunak dan sangat halus. Selain kehalusan tanah, ketersediaan air yang cukup harus diperhatikan. Bila air dalam areal penanaman cukup banyak maka akan makin banyak unsur hara dalam koloid yang dapat larut. Keadaan ini akan berakibat makin banyak unsur hara yang dapat diserap akar tanaman.
Butiran tanah yang lunak dan halus ini lazim disebut koloid. Di dalam koloid ini terikat bermacam – macam unsur hara yang penting bagi tanaman seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), sulfur (S),magnesium (Mg), besi (Fe) dan kalsium (Ca). Oleh karena itu, bila pengolahan tanah sawah makin sempurna maka makin halus tanah tersebut sehingga jumlah koloid tanah makin banyak. Akibatnya, unsur hara yang terikat akan makin banyak sehingga tanah makin subur.
Langkah awal pengolahan tanah sawah adalah memperbaiki pematang sawah. Perbaikan pematang sawah dilakukan dengan cara ditinggikan dan lubang – lubang ditutup kembali. Adanya lubang memungkinkan air dapat keluar dari lahan. Padahal, lahan penanaman ini harus tergenang air selama seminggu sebelum pengolahn tanah selanjutnya.
Setelah direndam selama seminggu, biasanya tanah sudah lunak dan pembajakan dapat segera dilakukan. Pembajakan sawah dapat menggunakan traktor atau cara tradisional dengan tenaga hewan (biasanya memanfaatkan kerbau). Kedua cara tersebut dapat dipilih asalkan tujuan pembajakan dapat tercapai, yaitu pembalikan tanah. Selain untuk pembalikan tanah, pembajakan pun bermanfaat untuk memberantas gulma. Dengan pembajakan , tanaman pengganggu dan biji – biji padi akan terbenam dan terurai.
Dari dua pilihan cara pembajakan sawah, menurut pengalaman petani organik, cara pembajakan secara tradisional memberikan hasil lebih baik. Mungkin hal ini terjadi karena mata bajak tradisonal akan lebih dalam masuk ke dalam tanah sehingga pengolahan menjadi lebih sempurna. Tingkat kedalaman pengolahan tanah ada hubungannya dengan produktivitas. Pada kedalaman tertentu, produksi padi akan maksimal seperti tampak pada Tabel I.
Dari Tabel I tampak bahwa makin dalam pengolahan tanah maka makin bagus produkstivitas padi yang ditanam. Namun demikian, pada kedalaman 32 cm hasilnya justru menurun. Hal ini menunjukkan

TABEL I . PENGARUH KEDALAMAN PENGOLAHAN TANAH TERHADAP HASIL PANEN

Kedalaman Pengolah Tanah (cm)
Hasil Panen (g/rumpun)
8
12
16
20
24
28
32
12,4
18,2
20,8
23,2
26,4
27,9
27,5
Sumber : Hadrian Siregar, 1987
Bahwa lapisan bunga tanah (top soil) yang merupakan lapisan tanah subur memang terbatas. Pengolahan tanah terbaik adalah pada kedalaman sekitar 30 cm.
Setelah dibajak, tanah sawah kembali dibiarkan selama seminggu dalam keadaan tergenang air. Penggenangan air ini dilakukan agar proses pelunakan tanah berlangsung sempurna. Seminggu kemudian tanah dapat dibajak kembali agar bongkahan tanah menjadi makin kecil. Pembajakan kedua ini pun dapat diganti dengan pencangkulan. Prinsip pembajakan kedua ini adalah agar bongkahan tanah menjadi makin kecil.
Pada pembajakan yang kedua ini pemberian pupuk dasar dapat dilakukan. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kandang matang sebanyak 5 ton/ha sawah. Pemberian pupuk kandang harus dilakukan sedemikian rupa sehingga menyatu dengan tanah.
Sebelum pembajakan sawah kedua, pemberian pupuk dasar dapat dilakukan. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kandang matang sebanyak 5 ton/ha sawah. Pemberian pupuk kandang ini dilakukan dengan cara ditebarkan merata ke seluruh permukaan lahan, lalu dibiarkan selama empat hari. Empat hari kemudian tanah dibajak agar menyatu dengan pupuk kandang.
Lahan yang sudah dibajak kedua kalinya dibiarkan tergenang kembali selama empat hari. Empat hari kemudian, lahan digaru dengan cara tradisional (garu yang ditarik dengan kerbau) atau cara modern (dengan traktor). Penggaruan tanah bertujuan agar tanah menjadi rata dan rerumputan yang masih tertinggal dapat terbenam ke dalam tanah. Setelah itu, kembali lahan dibiarkan tergenang selama empat hari.
Empat hari setelah digaru, tanah sudah menjadi lumpur halus dan pupuk kandang sudah menyatu sempurna dengan tanah. Pada saat ini penanaman bibit dapat dilakukan. Namun, bila lahan belum menjadi lumpur halus maka proses pelumpuran dapat kembali dilakukan.
Caranya, tanah diinjak – injak sedemikian rupa sehingga benar – benar menjadi lumpur halus. Penginjakan tanah ini pun bertujuan agar permukaan tanah menjadi rata sehingga proses penanaman bibit akan mudah dilakukan. Setelah lahan benar – benar dalam kondisi siap tanam, di tengahnya dibuatkan alur memanjang sepanjang lahan dengan lebar sekitar 50 cm sebagai saluran keluar masuknya air.

D. PENANAMAN

Bila sudah siap ditanami dan bibit di persemaian sudah memenuhi syarat maka penanaman dapat segera dilakukanSyarat bibit yang baik untuk dipindahkan ke lahan penanaman adalah tinggi sekitar 25 cm, memiliki 5 – 6 helai daun, batang bawah besar dan keras, bebas dari hama penyakit, serta jenisnya seragam.
Umur bibit berpengaruh terhadap produktivitas. Varietas genjah (100-115 hari), umur bibit terbaik untuk dipindahkan adalah 18 – 21 hari. Varietas sedang (sekitar 130 hari), umur bibit terbaik untuk dipindahkan adalah 21 – 25 hari. Sementara varietas dalam (sekitar 150 hari), umur bibit terbaik untuk dipindahkan adalah 30 – 45 hari.
Jarak tanam di lahan pun mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas padi. Penentuan Jarak tanam sendiri dipegaruhi oleh dua faktor, yaitu sifat varietas dan kesuburan tanah. Bila varietasnya memiliki sifat merumpun tinggi maka jarak tanamnya harus lebih lebar dari padi yang memiliki sifat merumpun rendah. Sementara bila tanah sawah lebih subur, jarak tanam harus lebih dibanding tanah kurang subur. Jarak tanam yang paling banyak digunakan petani di Indonesia adalah 25 cm dan 30 cm x 30 cm.
Jumlah bibit yang dimasukkan ke dalam setiap “dapur” atau rumpun adalah 3-4, tergantung kondisi bibit dan sifat varietas. Bila kondisi bibitnya kokoh dan sehat serta varietasnya berumpun banyak maka setiap rumpun cukup ditanam sebanyak tiga bibit saja. Namun, bila keadan bibitnya kurang kokoh dan varietasnya merumpun sedikit maka setiap rumpunnya sebanyak empat bibit.
Umumnya sebagian besar petani di Indonesia kurang memperhatikan kedalaman bibit saat dibenamkan ke lahan. Kedalaman yang sering digunakan hanya didasarkan pada pengalaman selama bertahun – tahun menjadi petani. Di banyak tempat sering terjadi bibit dibenamkan terlalu dalam, terlebih pada tanah yang melumpur lunak sempurna. Padahal bibit yang terlalu dalam dibenamkan akan berakibat pada berkurangnya jumlah anakan tanaman. Ini terjadi karena semakin dalam pembenamannya maka akan semakin kurang suhu tanahnya sehingga mata tunas yang ada di bagian bawah bibit tidak akan

Kedalaman

Jumlah Bulir/Rumpun

Hasil Gabah/1,5 m2
2,5 cm
5,0 cm
7,5 cm
9,7
9
8,7
1,08 kg
1,10 kg
0,98 kg
memperoleh rangsangan untuk membentuk anakan, Tabel 2 menunjukkan pengaruh kedalaman pembenaman bibit terhadap hasil panen.
Dari Tabel 2 tampak bahwa produkstivitas tertinggi dicapai pada pembudidayaan padi dengan bibit yang ditanam sedalam 5 cm. Oleh karena dalam praktik sulit menentukan kedalaman bibit 5 cm maka sebagai patokan adalah bibit sudah terbenam sekitar dua buku jari tangan.
Budidaya padi organik tidak hanya aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia, tetapi secara ekonomis juga lebih menguntungkan dibanding budi daya padi non-organik. Berikut ini disajikan perbandingan analisis usaha budi daya padi organik dan non-organik. Dengan membandingkan hasil analisis dari kedua cara budi daya tersebut maka petani diharapkan dapat menyimpulkan sendiri suatu cara budi daya yang terbaik. Analisis ini dibuat untuk luasan lahan I hektar. Nilai atau harga yang digunakan berlaku untuk daerah Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, pada awal tahun 2002.
A. BIAYA OPERASIONAL
Biaya operasional pembudidayaan padi organik dan non-organik merupakan biaya yang dikeluarkan selama budi daya padi ini dilakukan.
Adapun biaya operasional tersebut dapat dilihat pada tabel 4.
TABEL 4. BIAYA OPERASIONAL PEMBUDIDAYAAN PADI SECARA ORGANIK DAN NON-ORGANIK
Uraian
Biaya Budi Daya (Rp)
Orgnik
Non-Organik
Benih 30 kg
Pupuk dasar:
- Pupuk kandang/kompos 5 ton
Pupuk susulan :
- Urea 500 kg
- KCl 250 kg
- TSP 250 kg
- Pupuk kandang/kompos 200 kg
- Pupuk Organik cair
Pestisida :
- Pestisida Organik
- Pestisida Kimia
Tenaga Kerja
- Pengolahan lahan (borongan)
- Penanaman (borongan)
- Penyuluhan 5 HKP
- Pengolahan tanah ringan 10 HKP
- Penyiangan 25 HKP
- Pemupukan
- Penyemprotan 10 HKP
- Pemanenan ( borongan )
- Pascapanen (perontokan) 18 HKP
- Penggilingan gabah (ongkos huller)
150.000,00
750.000,00
-
-
-
150.000,00
50.000,00
50.000,00
-
250.000,00
250.000,00
50.000,00
100.000,00
250.000,00
20.000,00
100.000,00
775.000,00
180.000,00
250.000,00
150.000,00
-
600.000,00
432.500,00
500.000,00
-
-
750.000,00
250.000,00
250.000,00
50.000,00
100.000,00
250.000,00
40.000,00
100.000,00
775.000,00
180.000,00
250.000,00
Jumlah
3.375.000
4.677.500,00
Pada Tabel 4 tampak bahwa biaya operasional penyediaaan benih hingga penanaman padi organik dan non-organik tidak berbeda.
Perbedaan mulai tampak pada pemupukan. Bila pada budi daya non-organik sama sekali tidak menggunakan kompos hingga senilai Rp. 750.000,00. Namun, untuk pemupukan susulan pada budi daya organik masih lebih hemat dibanding budi daya non-organik. Secara keseluruhan, biaya pemupukan pada budi daya padi organik hanya 61,9 % (RP 950.000,00) dibanding padi non-organik 100 % (Rp 1.532.500,00).
Perbedaan mencolok lainnya adalah biaya untuk pengadaan pestisida pada budi daya padi non-organik sangat tinggi (Rp750.000,00 atau 100 %) dibanding pada budi daya organik (Rp 50.000,00 atau 6,6 %). Ini terjadi karena akhir – akhir ini harga pestisida kimia melonjak akibat krisis moneter yang berkepanjangan. Sementara biaya tenaga kerja tidak ada perbedaan yang cukup berarti, hanya terjadi pada pemupukan.
Secara keseluruhan biaya operasional budi daya padi organik per hektar adalah Rp 375.000,00, sedangkan non-organik adalah Rp 4.677.500,00. Di sini tampak adanya penghematan Rp 1.322.500,00 untuk pembudidayaan padi secara organik.
B PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN
Dengan asumsi tidak terjadi puso dimakan hama dan penyakit, setiap hektar sawah akan mampu menghasilkan gabah kering giling 7,5 ton, baik untuk penanaman secara organik maupun non-organik.
Setelah digiling, beras yang dihasilkan sebanyak 4,5 ton/ha. Bila harga beras organik Rp 3.600,00/kg maka pendapatannya sebesar Rp 16.600.000,00. Dengan demikian, keuntungan budi daya padi secara organik sebesar Rp 13.225.000,00. Sementara itu, bila harga beras non-organik Rp 3.200,00/kg maka pendapatan petani sebesar Rp 14.400.000,00/kg sehingga keuntungannya hanya
Rp 9.722.500,00/ha.
C. ANALISIS FINANSIAL
Analisis finansial ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dari usaha budi daya padi secara organik. Pembahasan mengenai analisis finansial ini terdiri dari BEP (break event point), B/C (benefit cost) ratio, dan ROI (return of investment). Untuk membedakan kelayakannya, pembahasannya dilakukan untuk beras organik dan beras non-organik.
1. Beras organik
a. BEP (break event point)
Suatu usaha budi daya dikatakan berada pada titik BEP berarti besarnya hasil sama dengan modal yang dikeluarkan atau sering disebut titik impas usaha atau balik modal. Perhitungan BEP ada dua, yaitu BEP volume produksi dan BEP harga produksi.
BEP volume produksi = Biaya operasional
Harga produksi
Rp 3.375.000,00
Rp 3.600,00/kg
= 937,5 kg
Artinya, titik balik modal usaha budi daya padi organik akan tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 937,5 kg untuk sekali panen.
BEP volume produksi = Biaya operasional
Jumlah produksi
Rp 3.375.000,00
Rp 4.500 kg
= Rp 750,00/kg.
b. B/C (benefit cost) ratio
B/C ratio merupakan suatu ukuran perbandingan antara hasil penjualan dengan biaya operasioanl. Dengan B/C ratio akan diperoleh ukuran kelayakan usaha. Bila nilai yang diperoleh lebih dari satu maka usaha dapat dikatakan layak untuk dilaksanakan. Namun, bila kurang dari satu maka usaha tersebut dikatakan tidak layak.
B/C ratio = Hasil penjualan
Biaya oprasional
Rp 16.600.000,00
Rp 3.375.000,00
= 4,91
Artinya, dari biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 16.600.000,00 akan diperoleh hasil penjualan sebesar 4,91 kali lipat sehingga sangat layak untuk diusahakan.
c. ROI (return of investment)
Analisis ROI (return of investment) merupakan ukuran perbandingan antara keuntungan dengan biaya operasional. Analisis ini digunakan untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal.
ROI = Keuntungan x 100 %
Biaya operasional
Rp 13.225.000,00 x 100 %
Rp 3.375.000,00
= 391,8 %
Artinya, dari biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 100,00 akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp 391,80 sehingga penggunaan modal untuk usaha ini sangat efisien.
2. Beras non-organik
a. BEP (break event point)
BEP volume produksi = Biaya operasional
Harga produksi
Rp 4.677.500,00 = 1,461,7 kg
Rp 3.200,00/kg
Artinya, titik balik modal usaha budi daya padi non-organik akan tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 1.461,7 kg untuk sekali panen.
BEP volume produksi = Biaya operasional
Jumlah produksi
Rp 4.677.500,00 = 1,039,40 kg
4.500 kg
Artinya, titik balik modal tercapai bila harga beras non-organik yang diperoleh dijual dengan harga Rp 1.039,40/kg.
b. B/C (benefit cost) ratio
B/C ratio = Hasil penjualan
Biaya operasional
Rp14.400.000,00 = 3,07
Rp 4.677.500,00
Artinya, dari biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 14.400.000,00 akan diperoleh hasil penjualan sebesar 3,07 kali lipat sehingga sangat layak untuk diusahakan.
c. ROI (return of investment)
ROI = Keuntungan x 100 %
Biaya operasional
Rp 9.722.500,00 x 100 %
Rp 4.677.500,00
= 207 %
Artinya, dari biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 100,00 akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp 207,00 sehingga penggunan modal untuk usaha ini sangat efisien.
D. KESIMPULAN ANALISIS
Dari hasil analisis finansial, budi daya organik masih lebih layak dibanding non-organik. Ini dapat dilihat dari titik impas volume dan harga produksi beras organik jauh lebih kecil dibanding beras non-organik. Pembiayaan budidaya organik pun lebih rendah dari budi daya non-organik walaupun produksi beras tetap sama.
Untuk perhitungan B/C ratio, budi daya organik masih lebih besar dibanding non-organik, yaitu 4,91 (keuntungan hampir lima kali) dan 3,07 (keuntungan tiga kali).Sementara untuk perhitungan ROI, diperoleh angka 391,8% pada budi daya organik dan 207 % pada budidaya non-organik. Angka ini pun menunjukkan keuntungan yang diperoleh dari budi daya padi secara organik hampir dua kali lipat keuntungan budi daya padi secara non-organik. Dengan demikian modal usaha akan lebih cepat kembali pada pembudidayaan padi secara organik.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa selain aman untuk dikonsumsi manusia dan ramah terhadap lingkungan, budi daya padi secara organik ini pun memberikan tingkat kelayakan usaha yang jauh lebih tinggi dibanding budi daya padi secara non-organik.